Menyempurnakan Bersyukur di Hari Tasyrik

Mulyawan Safwandy Nugraha

Kepala LP2M STAI Kharisma Sukabumi

Hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian Idul Adha. Ia hadir bukan sekadar sebagai lanjutan waktu, tetapi sebagai penyempurna makna. Jika Idul Adha menampilkan pengorbanan, maka hari tasyrik menghadirkan penghayatan. Di sinilah seorang Muslim diajak untuk merenungi kembali hakikat hubungan dirinya dengan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. Hadits ini menunjukkan keseimbangan ajaran Islam. Di satu sisi, manusia dipersilakan menikmati rezeki yang halal. Di sisi lain, ia tidak boleh melepaskan kesadarannya dari Sang Pemberi. Dengan demikian, kenikmatan tidak menjauhkan dari Tuhan, tetapi justru mendekatkan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan utama dari kurban adalah ketakwaan. Bukan daging dan darah yang sampai kepada Allah, tetapi keikhlasan hati. Maka hari tasyrik dapat dipahami sebagai ruang untuk menjaga ketakwaan itu tetap hidup. Setelah ibadah kurban dilaksanakan, kesadaran spiritual tidak boleh meredup. Ia harus terus dipelihara.

Dalam konteks ini, makan dan minum menjadi sarana untuk bersyukur. Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran yang hadir dalam hati dan tercermin dalam sikap. Ketika seseorang menikmati makanan sambil mengingat Allah, ia sedang menggabungkan nikmat lahir dan batin. Inilah bentuk ibadah yang utuh.

Dzikir yang dianjurkan pada hari tasyrik, khususnya takbir, memiliki makna yang mendalam. Kalimat Allahu Akbar mengingatkan bahwa Allah Maha Besar di atas segala sesuatu. Ia meluruskan cara pandang manusia yang sering kali terpesona oleh hal-hal duniawi. Dengan takbir, hati diarahkan kembali kepada Yang Maha Tinggi.

Hari tasyrik juga berkaitan erat dengan dimensi sosial ibadah kurban. Daging yang dibagikan kepada masyarakat, terutama yang membutuhkan, merupakan wujud nyata dari kepedulian. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Keduanya harus berjalan seimbang.

Larangan berpuasa pada hari tasyrik mengandung hikmah yang dalam. Ia menunjukkan bahwa tidak semua bentuk ibadah adalah menahan diri. Ada saat di mana manusia justru dianjurkan untuk menikmati nikmat Allah. Namun, kenikmatan itu harus disertai dengan kesadaran dan rasa syukur.

Bagi mereka yang menunaikan ibadah haji, hari tasyrik diisi dengan melontar jumrah. Ini merupakan simbol penolakan terhadap godaan dan kejahatan. Bagi yang tidak berhaji, makna ini tetap relevan. Setiap manusia memiliki tantangan yang harus dihadapi dengan keteguhan iman.

Dengan demikian, hari tasyrik mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan beragama. Ia menggabungkan antara kenikmatan dan kesadaran, antara ibadah personal dan kepedulian sosial. Semua itu bermuara pada satu tujuan, yaitu ketakwaan kepada Allah.

Jika hari-hari tasyrik dihayati dengan baik, maka ia akan menjadi sarana untuk memperkuat hubungan manusia dengan Tuhannya dan dengan sesamanya. Di situlah letak kesempurnaan syukur. Bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam kehidupan yang dijalani dengan penuh kesadaran.