Mulyawan Safwandy Nugraha
Direktur Pascasarjana STAI Kharisma Sukabumi
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“ Seseorang berada di atas agama atau jalan hidup sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah setiap orang memperhatikan siapa yang menjadi sahabat dekatnya.”
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Hadis ini pada mulanya tampak sederhana. Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan kita agar berhati-hati dalam memilih sahabat. Tetapi jika direnungkan lebih jauh, sesungguhnya hadis ini berbicara tentang sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia: manusia tidak pernah sepenuhnya membentuk dirinya sendirian.
Kita memang memiliki kebebasan untuk memilih. Namun pilihan-pilihan itu tidak lahir di ruang yang kosong. Cara kita berpikir, berbicara, menilai sesuatu, bahkan menentukan apa yang kita anggap baik dan buruk, sedikit banyak dibentuk oleh lingkungan tempat kita hidup dan orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Seseorang mungkin pada awalnya hanya berteman dengan orang yang gemar berkata kasar. Lama-kelamaan bahasa kasar itu terasa biasa. Mula-mula ia hanya ikut tertawa ketika temannya merendahkan orang lain. Setelah beberapa waktu, ia sendiri mulai melakukan hal yang sama. Begitulah manusia belajar: bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga melalui contoh yang terus-menerus dilihatnya.
Karena itu, memilih sahabat sebenarnya bukan sekadar memilih siapa yang menyenangkan untuk diajak berbincang. Kita sedang memilih lingkungan yang sedikit demi sedikit akan ikut menentukan siapa diri kita kelak.
Di zaman sekarang persoalannya menjadi lebih rumit. Dahulu sahabat mungkin hanya mereka yang kita jumpai secara langsung. Sekarang, seseorang dapat menghabiskan berjam-jam setiap hari bersama orang-orang yang bahkan tidak pernah ditemuinya.
Kita mengikuti akun mereka, membaca tulisan mereka, mendengarkan pendapat mereka, menonton video mereka, lalu tanpa sadar membiarkan gagasan mereka masuk ke dalam pikiran kita.
Dengan demikian, konsep “pertemanan” tidak lagi hanya berkaitan dengan siapa yang duduk bersama kita di warung kopi atau siapa yang berjalan bersama kita di dunia nyata. Ia juga menyangkut siapa yang kita izinkan tinggal di dalam pikiran kita.
Maka menarik untuk bertanya kepada diri sendiri: siapa yang paling sering saya dengarkan? Apa yang paling sering saya baca? Siapa yang pendapatnya paling mudah memengaruhi saya? Nilai-nilai apa yang setiap hari saya konsumsi?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena agama bukan hanya perkara ritual yang kita kerjakan pada waktu-waktu tertentu. Agama juga merupakan orientasi hidup. Ia menentukan bagaimana seseorang memandang manusia, kekuasaan, harta, ilmu, kebebasan, bahkan dirinya sendiri.
Seseorang dapat rajin beribadah, tetapi jika lingkungan terdekatnya terus-menerus mendorong kesombongan, kebencian, fitnah, dan penghinaan terhadap sesama, maka ada sesuatu yang patut direnungkan.
Sebab ukuran keberagamaan tidak cukup dilihat dari berapa banyak simbol agama yang kita tampilkan, tetapi juga dari nilai apa yang tumbuh dalam diri kita setelah bergaul dengan orang-orang yang kita pilih.
Namun hadis ini jangan pula dipahami sebagai ajakan untuk menjauhi semua orang yang berbeda dengan kita. Islam tidak mengajarkan manusia hidup dalam ruang sosial yang tertutup. Justru kita diperintahkan untuk membangun hubungan kemanusiaan yang luas.
Yang perlu dijaga adalah siapa yang kita jadikan khalil—sahabat dekat, orang yang kita percayai, yang kita dengarkan, yang kita jadikan tempat bertukar pikiran, dan yang perlahan-lahan kita izinkan memengaruhi arah kehidupan kita.
Di sinilah letak kedewasaan dalam memilih pergaulan.
Kita tidak harus memusuhi orang yang berbeda dengan kita. Kita bahkan perlu belajar dari perbedaan. Tetapi kita harus memiliki keteguhan nilai agar tidak kehilangan diri sendiri hanya karena ingin diterima oleh lingkungan.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:
“Jika aku terus bersama mereka, menjadi manusia seperti apakah aku lima atau sepuluh tahun yang akan datang?”
Pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar bertanya, “Apakah mereka menyenangkan?”
Sebab teman yang baik bukan selalu teman yang membuat kita tertawa. Kadang-kadang ia justru orang yang membuat kita berpikir. Ia mengingatkan ketika kita keliru, menegur ketika kita mulai menyimpang, dan mengajak kita kembali ketika langkah kita mulai jauh.
Persahabatan yang demikian bukan hanya memperkaya kehidupan sosial, tetapi juga memperkaya kehidupan batin.
Maka memilih sahabat pada hakikatnya adalah memilih sebagian dari masa depan kita sendiri.
Dan mungkin itulah salah satu pesan terdalam hadis Nabi ﷺ: jangan menyerahkan pembentukan diri kita kepada sembarang orang.
Sebab kita boleh saja memilih banyak teman dalam kehidupan, tetapi tidak semua orang harus kita izinkan menjadi bagian dari arah perjalanan jiwa kita.
Pada akhirnya, lihatlah orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Barangkali dari sanalah kita dapat melihat, sedang menuju ke mana sebenarnya kehidupan kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.

