Dinamika Puasa di Ruang Digital

Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua LP2M STAI Kharisma Cicurug Sukabumi

Pagi hari sering dimulai dengan satu kebiasaan yang sama. Banyak orang meraih ponsel bahkan sebelum benar benar bangun dari tempat tidur. Layar dibuka. Notifikasi dibaca. Linimasa media sosial bergerak cepat. Ada berita, komentar, perdebatan, sindiran, juga kemarahan yang ditulis tanpa banyak jeda. Dalam situasi seperti itu Ramadhan datang setiap tahun. Kita menahan lapar sejak fajar. Kita menahan haus hingga matahari tenggelam. Namun di saat yang sama ruang digital tetap riuh oleh kata kata yang keras. Ada ironi kecil yang kadang luput kita sadari. Kita menahan perut, tetapi tidak selalu menahan jari.

Al Quran menyebut tujuan puasa dengan sangat jelas. Allah berfirman, “Wahai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini sering kita dengar setiap Ramadhan. Tetapi maknanya tidak berhenti pada rutinitas ibadah. Takwa adalah kesadaran moral yang hidup. Ia hadir ketika seseorang mampu mengendalikan diri. Nabi Muhammad juga pernah mengingatkan dengan kalimat yang tegas. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari beliau bersabda bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. Hadits ini terasa sederhana, tetapi pesannya sangat dalam. Puasa bukan sekadar latihan biologis. Ia adalah latihan etis.

Ketika ayat dan hadits itu dibaca dalam konteks kehidupan hari ini, kita menemukan satu medan baru tempat etika diuji. Medan itu bernama media sosial. Di ruang digital ini semua orang memiliki panggung. Setiap orang dapat berbicara, menilai, memuji, atau mencela. Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial yang sangat besar. Laporan Digital 2024 dari We Are Social menunjukkan jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah melampaui 170 juta orang. Sebagian besar aktif setiap hari. Artinya jutaan percakapan berlangsung tanpa henti. Informasi menyebar dalam hitungan detik. Pendapat bertabrakan di ruang terbuka.

Masalahnya tidak selalu pada teknologi. Teknologi hanya alat. Persoalannya adalah bagaimana manusia menggunakannya. Dalam banyak kasus, media sosial menjadi tempat di mana emosi lebih cepat muncul daripada akal sehat. Sebuah berita politik yang belum jelas langsung memancing kemarahan. Sebuah potongan video pendek dapat memicu perdebatan panjang. Kata kata yang mungkin tidak pernah diucapkan secara langsung justru ditulis dengan mudah di layar ponsel. Orang merasa aman di balik jarak digital. Padahal kata kata yang ditulis tetap memiliki dampak yang nyata bagi orang lain.

Di sinilah puasa sebenarnya memiliki makna yang sangat relevan. Puasa melatih manusia untuk berhenti sejenak sebelum menuruti dorongan. Ketika lapar datang di siang hari, kita tidak langsung makan. Kita menunggu sampai waktunya tiba. Ketika haus terasa, kita menahannya hingga azan maghrib berkumandang. Proses menahan diri itu terlihat sederhana, tetapi di baliknya ada latihan mental yang penting. Seseorang belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Ada waktu untuk menahan diri. Ada ruang untuk berpikir sebelum bertindak.

Jika nilai ini dibawa ke dunia digital, puasa dapat menjadi latihan etika media sosial. Setiap kali membaca informasi yang memancing emosi, seseorang bisa berhenti sejenak. Ia tidak langsung menulis komentar panjang. Ia tidak terburu buru membagikan berita yang belum jelas. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah kata kata ini akan membawa manfaat atau justru menambah keruh suasana. Sikap sederhana seperti ini jarang disadari sebagai bagian dari ibadah. Padahal inilah salah satu bentuk takwa yang nyata dalam kehidupan modern.

Kita sering menemukan contoh kecil dalam kehidupan sehari hari. Seseorang membaca berita yang tidak ia sukai. Tanpa berpikir panjang ia menulis komentar yang menghina pihak lain. Komentar itu kemudian dibalas dengan kata kata yang lebih keras. Percakapan berubah menjadi pertengkaran. Padahal kedua orang tersebut mungkin sedang berpuasa. Mereka menahan lapar dan haus sepanjang hari. Namun kemarahan tetap mengalir melalui jari jari mereka.

Contoh lain juga sering terjadi. Pesan berantai datang melalui aplikasi percakapan. Isinya dramatis. Kadang menakutkan. Kadang memancing kemarahan terhadap kelompok tertentu. Tanpa memeriksa kebenarannya, pesan itu langsung diteruskan ke banyak orang. Dalam hitungan menit kabar yang belum tentu benar menyebar luas. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis. Ia juga menyangkut kedewasaan moral.

Ramadhan sebenarnya menawarkan kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan itu. Ketika seseorang menyadari makna puasa secara lebih dalam, ia tidak hanya menjaga apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia juga menjaga apa yang keluar dari pikirannya. Ia mulai berhati hati dengan kata kata. Ia menyadari bahwa setiap tulisan di ruang digital adalah bagian dari jejak moralnya.

Jika nilai puasa benar benar hidup, media sosial dapat berubah menjadi ruang yang lebih sehat. Orang tetap boleh berbeda pendapat. Kritik tetap diperlukan dalam masyarakat yang demokratis. Namun perbedaan tidak harus disampaikan dengan penghinaan. Diskusi tidak harus berubah menjadi permusuhan. Kata kata dapat disampaikan dengan tegas tanpa merendahkan martabat orang lain.

Ada satu hal yang menarik dalam tradisi puasa. Ketika seseorang diprovokasi untuk bertengkar, Nabi Muhammad mengajarkan sebuah kalimat sederhana. “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Kalimat ini bukan sekadar penolakan untuk bertengkar. Ia adalah pengingat bagi diri sendiri bahwa ada disiplin batin yang sedang dijaga. Dalam konteks hari ini, kalimat itu bisa diterjemahkan secara lebih luas. Ketika membaca komentar yang menyulut emosi di media sosial, mungkin kita juga perlu berkata dalam hati, aku sedang berpuasa.

Ramadhan selalu datang dengan pesan yang sama. Ia mengingatkan manusia agar kembali pada kesadaran diri. Lapar dan haus hanyalah pintu masuk untuk latihan yang lebih dalam. Latihan itu adalah mengendalikan diri dalam berbagai situasi. Termasuk ketika kita berada di depan layar ponsel yang kecil tetapi memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial kita.

Kita sudah menahan lapar sejak subuh. Kita menjaga diri dari makanan dan minuman hingga senja. Namun ada satu hal yang sering tidak terasa sebagai bagian dari ibadah. Menahan jari di layar ponsel. Mungkin di situlah salah satu hikmah puasa yang paling relevan dengan zaman ini. Bukan hanya apa yang kita makan yang perlu dijaga. Apa yang kita tulis dan sebarkan juga membutuhkan kesadaran yang sama. Ramadhan memberi kesempatan untuk belajar. Apakah puasa kita sudah sampai ke ruang digital tempat kita berbicara setiap hari.