Kolaborasi dan Inovasi dalam peningkatan mutu PTKIS menghadapi multi tantangan di era disrupsi

Oleh:
Mulyawan Safwandy Nugraha

Kolaborasi dan inovasi sering terdengar sebagai jargon. Namun dalam konteks PTKIS hari ini, dua kata itu justru menjadi penentu hidup mati mutu perguruan tinggi.

Tema rapat koordinasi PTKIS yang digelar oleh Kopertais II Jawa Barat pada 23–24 Desember 2025 terasa membumi. Ia lahir dari kegelisahan bersama. Bukan kegelisahan abstrak, tetapi kegelisahan yang dialami hampir semua pengelola PTKIS.

Kita hidup di era disrupsi. Perubahan datang cepat. Teknologi mengubah cara belajar. Mahasiswa menuntut layanan yang relevan. Dunia kerja menuntut lulusan yang adaptif. Regulasi bergerak dinamis. Di saat yang sama, sebagian PTKIS masih berjuang dengan persoalan dasar. SDM terbatas. Riset belum menjadi budaya. Tata kelola sering kali administratif, belum strategis. Ketergantungan pada SPP masih tinggi.

Di titik inilah kolaborasi menemukan maknanya.

Kolaborasi bukan basa-basi MoU. Kolaborasi adalah kesadaran bahwa mutu tidak bisa dibangun sendirian. Perguruan tinggi kecil tidak boleh merasa kecil. Dengan jejaring, keterbatasan bisa diatasi. Dosen bisa berbagi keahlian. Penelitian bisa dilakukan bersama. Kurikulum bisa dikembangkan secara kolaboratif. Biaya bisa ditekan. Dampak bisa diperluas.

Pengalaman banyak perguruan tinggi menunjukkan satu hal. Mereka yang kuat dalam jejaring biasanya lebih tahan menghadapi krisis. Mereka lebih cepat belajar. Lebih lentur menyesuaikan diri.
Namun kolaborasi saja tidak cukup. Ia butuh isi. Di sinilah inovasi bekerja.

Inovasi tidak selalu berarti digitalisasi besar-besaran. Inovasi sering kali sederhana. Cara mengajar yang lebih kontekstual. Kurikulum yang dekat dengan kebutuhan lokal. Sistem penjaminan mutu yang tidak berhenti di dokumen. Kepemimpinan yang berani mencoba cara baru.

Inovasi juga berarti keberanian mengakhiri kebiasaan lama yang sudah tidak relevan. Banyak PTKIS terjebak pada romantisme masa lalu. Padahal mahasiswa hidup di masa depan. Kampus yang tidak berinovasi akan kehilangan relevansi sosialnya.

Kolaborasi menyediakan ruang. Inovasi mengisi ruang itu dengan makna. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tanpa kolaborasi, inovasi berjalan lambat dan mahal. Tanpa inovasi, kolaborasi hanya menjadi pertemuan rutin tanpa perubahan nyata.

Dalam konteks ini, peran Kopertais menjadi sangat strategis. Bukan sekadar penghubung administratif. Kopertais adalah simpul mutu. Ia menjadi fasilitator jejaring. Penggerak agenda bersama. Penjaga arah peningkatan kualitas PTKIS agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Tema ini penting karena ia jujur membaca situasi. Ia tidak menyalahkan. Ia mengajak. Ia tidak menggurui. Ia menawarkan jalan.
PTKIS hari ini dihadapkan pada pilihan. Bertahan dengan pola lama. Atau berbenah dengan semangat kolaborasi dan inovasi.

Pilihan itu tidak selalu mudah. Namun sejarah pendidikan menunjukkan satu hal sederhana. Lembaga yang mau belajar bersama dan berani berubah, biasanya bertahan lebih lama.

Tema ini bukan slogan rapat. Ia adalah panggilan tanggung jawab. Agar PTKIS tetap relevan. Tetap bermakna. Tetap menjadi bagian dari ikhtiar mencerdaskan umat dan bangsa di tengah dunia yang terus berubah.

Penulis:
Mulyawan Safwandy Nugraha
Praktisi pendidikan, pegiat literasi, dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Ketua LP2M STAI Kharisma Sukabumi