Puasa dan Dampaknya terhadap Stres dan Kecemasan

Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua LP2M STAI Kharisma Sukabumi

Ada masa ketika saya merasa lelah bukan karena pekerjaan terlalu banyak, tapi karena pikiran tidak pernah diam. Malam hari tubuh ingin istirahat, tapi kepala terus menyusun skenario buruk. Bagaimana jika ini gagal. Bagaimana jika orang salah paham. Bagaimana jika saya tidak cukup baik. Cemas itu seperti suara kecil yang berisik. Ramadhan datang, dan pelan pelan saya sadar, mungkin yang perlu ditenangkan bukan jadwal saya, tapi batin saya.

Allah berfirman dalam QS. Ar Ra’d ayat 28, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ayat ini sering saya baca, tapi tidak selalu saya rasakan. Rasulullah juga menyebut dalam hadis riwayat Ahmad bahwa puasa adalah perisai. Saya dulu memahami perisai hanya dalam arti menahan dosa. Sekarang saya mulai melihatnya sebagai pelindung dari ledakan emosi dan dari kecemasan yang saya pelihara sendiri.

Stres sering muncul saat tuntutan terasa lebih besar dari kemampuan. Kecemasan muncul saat pikiran sibuk memprediksi masa depan yang belum tentu terjadi. Puasa sebenarnya mengubah ritme hidup kita. Ada sahur yang membuat kita bangun lebih sadar. Ada waktu berbuka yang dinanti dengan sabar. Ada tarawih yang memaksa kita berhenti dari hiruk pikuk. Ritme ini, jika dijalani dengan tenang, membantu sistem saraf kita lebih stabil. Bukan magis. Tapi teratur.

Secara medis, kadar hormon stres seperti kortisol bisa lebih terkontrol jika puasa dijalani dengan pola sehat. Saya bukan ahli biologi, tapi saya merasakan sendiri. Ketika saya makan secukupnya, tidur cukup, dan tidak berlebihan saat berbuka, hati terasa lebih ringan. Sebaliknya, ketika saya begadang tanpa alasan jelas, terlalu banyak gula saat berbuka, lalu mengeluh esok harinya, saya sadar saya sendiri yang merusak ritme itu.

Yang menarik, puasa mengajarkan penerimaan. Lapar tidak langsung dipenuhi. Haus tidak langsung diatasi. Ada jeda antara rasa tidak nyaman dan respons kita. Dari jeda itu saya belajar, tidak semua rasa cemas harus langsung dituruti. Tidak semua pikiran harus dipercaya. Kadang saya hanya perlu duduk, tarik napas, dan membiarkan gelombang itu lewat.

Saya pernah mengalami satu hari di Ramadhan ketika tekanan pekerjaan cukup berat. Pesan masuk bertubi tubi. Deadline terasa dekat. Biasanya saya panik. Tapi hari itu saya memilih diam beberapa menit sebelum zuhur. Saya membaca istighfar perlahan. Fokus pada napas. Rasanya sederhana. Tapi efeknya nyata. Pikiran tidak lagi se-chaos sebelumnya. Masalahnya tetap ada. Tapi saya tidak lagi terlalu larut di dalamnya.

Media juga punya peran besar dalam memicu stres. Di bulan Ramadhan saya mencoba mengurangi berita yang membuat dada sesak. Bukan berarti menutup mata dari realitas. Tapi memilih waktu dan dosisnya. Saya ganti dengan tilawah singkat atau membaca buku yang menenangkan. Hasilnya bukan hidup tanpa masalah. Tapi hati lebih siap menghadapi masalah.

Tidur juga sering saya anggap sepele. Padahal kurang tidur memperparah kecemasan. Saat saya memaksakan diri begadang hanya untuk hal yang tidak penting, besoknya emosi lebih tipis. Ramadhan mengajarkan disiplin, termasuk disiplin istirahat. Kadang yang perlu saya ubah bukan dunia di luar, tapi kebiasaan kecil yang saya ulangi terus menerus.

Saya tidak ingin memotret puasa sebagai solusi instan semua gangguan mental. Itu tidak jujur. Tapi saya melihat Ramadhan sebagai ruang jeda. Ruang untuk memperlambat pikiran. Ruang untuk berdamai dengan diri yang sering saya paksa terlalu keras. Dalam keheningan sahur atau menjelang berbuka, saya merasa lebih dekat dengan diri sendiri. Lebih jujur tentang ketakutan saya.

Ramadhan memberi kesempatan untuk menata ulang cara merespons tekanan. Pertanyaannya sederhana tapi dalam. Apakah kita menjalani puasa sambil terus memelihara kecemasan yang sama, atau berani menggunakan bulan ini untuk belajar tenang, belajar percaya, dan belajar melepaskan hal hal yang memang tidak bisa kita kendalikan?