Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua LP2M STAI Kharisma Sukabumi
Dalam pendidikan Islam, tujuan utama bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan kepribadian. Kita ingin melahirkan manusia yang utuh. Berilmu, beriman, dan berakhlak. Dalam konteks itulah puasa Ramadhan harus dipahami. Ia bukan hanya ibadah ritual, melainkan proses pendidikan jiwa. Salah satu nilai utama yang dididik oleh puasa adalah sabar, khususnya dalam mengendalikan emosi.
Allah berfirman dalam QS. Az Zumar ayat 10 bahwa orang orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas. Ayat ini menunjukkan betapa sentralnya sabar dalam ajaran Islam. Rasulullah pun menegaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, orang kuat bukan yang menang dalam pergulatan, tetapi yang mampu menahan diri ketika marah. Dengan demikian, ukuran kekuatan dalam Islam adalah kemampuan mengendalikan diri.
Secara psikologis, manusia memiliki dorongan dorongan dasar. Dorongan makan, dorongan mempertahankan diri, termasuk dorongan marah ketika merasa terancam. Jika dorongan ini tidak dikendalikan, manusia akan bertindak reaktif. Dalam ilmu pendidikan, pengendalian diri merupakan indikator kematangan kepribadian. Anak yang matang bukan yang tidak pernah marah, tetapi yang mampu mengelola kemarahannya secara proporsional.
Puasa melatih pengendalian diri secara sistematis. Selama kurang lebih empat belas jam, seseorang menahan diri dari makan dan minum. Padahal keduanya kebutuhan dasar yang halal. Latihan ini membentuk kemampuan menunda pemuasan dorongan. Jika terhadap yang halal saja kita dilatih untuk menahan diri, maka seharusnya terhadap yang jelas merusak, seperti kemarahan yang berlebihan, kita lebih mampu lagi mengendalikannya.
Menarik untuk dicermati bahwa puasa dilakukan dalam kondisi fisik yang relatif lebih lemah. Energi berkurang. Tubuh tidak sekuat biasanya. Dalam keadaan seperti itu, emosi cenderung lebih sensitif. Justru di situlah nilai pendidikannya. Sabar dalam kondisi normal mungkin mudah. Sabar dalam keadaan lapar memiliki kualitas yang berbeda. Ia menunjukkan adanya kontrol batin yang lebih dalam.
Dalam kehidupan sehari hari, latihan ini sangat relevan. Di jalan raya, ketika ada pengendara lain yang tidak tertib, kita bisa memilih bereaksi dengan kemarahan atau menahan diri. Di rumah, menjelang berbuka, ketika kelelahan memuncak, perbedaan kecil dapat memicu pertengkaran. Puasa mengajarkan agar kita tidak langsung merespons secara emosional, tetapi memberi ruang bagi pertimbangan akal dan nilai agama.
Dari sudut pandang pendidikan karakter, puasa adalah kurikulum tahunan yang dirancang langsung oleh syariat. Ia mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ada pemahaman tentang makna puasa. Ada penghayatan spiritual. Ada praktik konkret dalam menahan diri. Jika dijalani dengan kesadaran, puasa akan membentuk pribadi yang lebih stabil secara emosional.
Tentu kita tidak selalu berhasil. Ada saat ketika emosi tetap muncul dan sulit dikendalikan. Namun pendidikan adalah proses. Ramadhan memberi kesempatan berulang untuk melatih diri. Setiap hari adalah sesi pembelajaran baru.
Karena itu, keberhasilan puasa tidak cukup diukur dari kemampuan menahan lapar dan dahaga. Ukuran yang lebih substansial adalah apakah setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih matang, dan lebih mampu mengendalikan emosi. Jika perubahan itu terjadi, berarti puasa telah berfungsi sebagai sarana pendidikan yang efektif dalam membentuk kepribadian Muslim yang utuh.

